Rabu, 29 Agustus 2018

bio plok

Bagi Jojo di Indramayu, Jawa Barat, aplikasi
teknologi bioflok pada budidaya lele memberi
banyak keuntungan. Selain hemat air, pakan, dan
lahan, panen pun tinggi. Dari 4 kolam wire mash di
lahan 25 m2, Jojo memanen 4 kuintal dari
pembesaran 5.000 lele.
Sejatinya teknologi bioflok memanfaatkan populasi
mikrob dalam wujud gumpalan. Populasi itu
berguna dalam proses nitrifikasi yang mengubah
amonia dari sisa-sisa pakan dan kotoran menjadi
nitrat yang tidak berbahaya. Ujung-ujungnya lele
nyaman hidup. Harap mafhum pada budidaya
intensif, lele mendapat asupan pakan berprotein
tinggi agar tumbuh cepat. Padahal dari pakan itu
hanya 25% termakan dan sisanya menjadi limbah.
Aplikasi teknologi bioflok tersebut memungkinkan
pembesaran lele dengan padat tebar tinggi hingga
1.000 ekor/m3. Sortasi tetap diperlukan untuk
menjamin keseragaman ukuran panen. Meski padat
tebar tinggi, nilai konversi pakan (FCR) terbilang
rendah hanya 0,7-0,9. Artinya untuk memperoleh 1
kg lele diperlukan pakan 0,7-0,9 kg.
Rendahnya nilai FCR itu karena terjadi karena
peningkatan mikroflora di saluran pencernaan lele
sehingga memperbaiki metabolisme. Semakin
mudah nutrisi terserap, lele cepat tumbuh. Dengan
tumbuh lebih cepat itu, otomatis jumlah pakan
lebih sedikit. Untuk padat tebar 5.000 ekor lele
ukuran 5—7 cm per kolam, biaya pakan terpangkas
Rp700.000-Rp800.000 selama pembesaran.
Jojo menjelaskan dengan aplikasi teknologi bioflok,
lele yang dihasilkan lebih bersih. “Dagingnya lebih
bagus, cocok bila dijadikan fillet,” katanya. Selain
itu daging bebas residu, renyah, berkadar lemak
dan kadar air rendah, dan bertekstur kenyal.
Kehadiran mikrob membuat penanganan limbah
lebih mudah. Pembuangan limbah hanya dengan
membuka backwash sehingga limbah yang
mengendap di dasar terbuang. Maksimal air yang
dibuang air 10%. Bila konvensional, ketika kadar
amonia tinggi, penggantian air dapat mencapai 50%
.
Aplikasi Teknologi Bioflok dari Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
1. Kolam diberi air dan dilakukan aerasi air selama
2 hari.
2 Berikan kaporit 15-30 ppm selama 3 hari dan Na
tiosulfat 15-30 ppm 1 hari.
3. Tebar benih ukuran 7-8 cm
4. Berikan probiotik 100 ml/m3 dan kapur 30 ppm
5. Pakan 3-5% dan molases 25%

Kamis, 31 Mei 2018

menanam jahe dalam karung

Salah satu pembudi daya jahe merah, mengatakan
menanam jahe merah dengan media karung atau
polybag tidak ribet dan tidak memakan tempat
besar namun hasilnya bisa tinggi. Misalnya jika
menggunakan tanah di kebun, hasil yang didapat
untuk sekali panen hanya 1-3 kg, sementara di
dalam Karung bisa lebih dari 10 kg.
Keuntungan lainnya, waktu tanam menggunakan
media karung atau polybag lebih singkat, hanya
8-10 bulan. Sementara di dalam lahan kebun
harus lebih dari satu tahun. Selain itu, lahan di
kebun kurang bagus jika terus-terusan ditanam
jahe, kualitas tanah akan berkurang, panas, dan
unsur haranya habis.
Keuntungan menggunakan karung atau polybag
simpel. Dia memberikan estimasi pengeluaran dan
hasilnya, misalnya untuk satu karung diisi cukup
dengan satu tunas dengan harga bibit kisarank
Rp.1.000 hingga Rp.1.500 Dalam waktu 8 hingga
10 bulan atau paling lama 1 tahunan, bisa
menghasilkan rata-rata 10 kg/Karung dan 5 Kg/
Polybag “Keuntungannya bisa dihitung sendiri,
harga per kilogram jahe yang cukup tinggi
dikalikan dengan jumlah karung yang tersedia.
Faktor yang Memungkinkan Budidaya Jahe Merah
Menguntungkan
Mari kita urai beberapa yang mungkin akan
menjadi faktor menguntungkan atau mendukung
keberhasilan budidaya jahe merah
1. Permintaan terhadap Jahe Merah masih cukup
tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri
maupun luar negeri.
2. Tanaman Jahe bisa tumbuh pada ketinggian 0
– 2.000 m.dpl. sehingga cakupan tempat
budidaya relatif luas.
3. Teknis budidaya relatif mudah, dengan
menggunakan media tanam di dalam polybag
ataupun karung bisa dilakukan
4. Harga jual jahe merah menurut perkembangan
pasar saat ini nilai ekonomi olahan lebih tinggi
dibanding harga jahe mentah.
5. Belum begitu banyak yang melakukan budidaya
jahe.
6. Biaya yang harus dikeluarkan relatif rendah.
Kita hanya perlu menyediakan polybag atau
karung, tanah, pupuk, dan bibit serta biaya
pemeliharaan yang tidak begitu besar, apalagi bila
dilakukan oleh kita sendiri.
Persiapan bibit.
Bahan bibit diambil dari kebun, dipilih dari
tanaman yang sudah tua, berumur 12 bulan ke
atas dan pilih fisiknya besar, warnanya cerah,
sehat dan tidak terluka/lecet alias mulus abis.
Setelah diseleksi, rimpang jahe di jemur tidak
sampai kering, kemudian simpan dalam suhu
ruang sekitar 1 – 1,5 bulan.
Perlakuan bibit.
Rimpang jahe simpanan di ambil setelah itu
patahkan/potong dengan tangan, setiap potong
memiliki 3-5 mata tunas setelah itu di jemur 1
hari. Keesokan harinya, potongan tersebut
dimasukkan wadah/keranjang yang berlobang/
karung goni lalu dicelupkan dalam larutan
fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1-2
menit, kemudian keringkan.
Persiapan bedeng semai dan penyemaian bibit.
Lahan bedengan bersihkan dari gulma dan
ratakan, bagian dasar ditabur abu/sekam/
gergajian setebal 5-10 cm. di atasnya beri
lampisan tanah dan pasir halus/ladu tebal sekitar
5 cm lalu bibit taruh berjajar merata di atasnya.
Kemudian ditutup dengan ladu. Pasang bambu di
plengkung tinggi 40 cm kemudian tutup plastik.
Penyemaian ini berguna buat berkecambah/
tumbuh jadi serempak. Di persemaian kurang
lebih sampai berumur 3 – 5 minggu siap tanam.
Media tanam.
Siapkan pupuk kandang, pasir halus, sekam
bakar/abu, tanah, khusus untuk pemberian
dolomit dan NPK: 1% dari semua campuran dan
MOL (stater mikroba) setelah itu campur/aduk
merata tutup dengan plastik, setiap pagi selama 7
– 15 hari media tanam aduk-aduk jangan lupa
setelah selesai tutup plastik kembali. Setelah itu
media siap digunakan
Penanaman
Persiapkan polybag plastik hitam ukuran 60 x 60
cm atau karung , kemudian di tekuk melebar
masukkan media tanam yang telah disiapkan
tanah campur kompos atau pupuk kandang..
seleksi bibit dipersemaian pilih yang sehat dan
bongsor, dengan cara di congkel setelah itu
tanam. Kemudian ditata rapi dalam bedengan. di
atas bedengan pasang paranet tinggi 1.5 m guna
peneduh/mengurangi terik dan curah hujan.
Perawatan
Perawatan yang dilakukan untuk penanaman jahe
terbilang sederhana dan tidak ribet. Pembenihan
dengan penyiraman dilakukan setiap 2 – 3
minggu dan dengan waktu yang sama siram air di
campur pupuk organik media tanamnya pun bila
ada hama dan penyakit segera di semprot
insektisida atau fungisida organik. Setiap 25 hari
sejak umur pertumbuhan tambahkan media tanam
setinggi 10 cm dan bersihkan gulma di sekitar
tanaman.
Pemanenan rimpang jahe merah dengan kualitas
terbaik, didapat ketika masuk usia 10 bulan
keatas. Dengan cara sobek bagian tepi hingga
tanah keluar, lalu pegang batang tanaman dan
goyang-goyangkan pelan hingga tanah yang
menempel di rimpang luruh. Pisahkan rimpang
utama yang baik/super dengan rimpang pocelan,
untuk menghindari penurunan kualitas jangan
memotong memakai pisau atau benda logam,
cukup pakai tangan dengan lembut.
Harapan,panen
Jahe merah di panen dalam umur 8-10 bulan,
perhitungan sederhana setiap karung, minimal
menghasilkan rimpang jahe 5 kg @ 500 Polybag =
2.500 kg
harga jahe segar Rp. 8.000/kg x 2.500 kg = Rp.
20.000.000,00 dikurangi Biaya produksi
Sedangkan dengan pengunaan karung ukuran 50
Kg bisa menghasilkan rimpang jahe rata-rata 10
kg @ 500 karung = 5.000 kg jahe segar,
anggaplah harga pasar minimal Rp. 8.000/kg x
5.000 kg = Rp. 40.000.000,00 dikurangi Biaya
produksi….
Jpeg
Analisa Ekonomi Budidaya Tanaman Jahe merah
Analisa ini saya lakukan secara praktis
berdasarkan rencana penanaman pada 500
karung media tanam. Yang diperhitungkan adalah
total biaya yang dikeluarkan meliputi modal awal
dan biaya pemeliharaan dibandingkan dengan
target pemasukan uang berdasarkan hasil
penjualan tanaman jahe.
1. Biaya yang di keluarkan meliputi :
• Karung : 500 karung x Rp. 1000,- = Rp.
500.000,-
• Pupuk kompos + media : 500 karung x Rp.
3.500- = Rp. 1.750.000,-
• Pupuk NPK : 500 karung x Rp. 1.000,- = Rp.
500.000,-
• Bibit Jahe : 3 tunas/karung = 1500 x Rp.
1.000,- = Rp. 1.500.000,-
• Zat Perangsang rimpang/umbi : Rp.250.000,-
• Lain-lain : = Rp.500.000,- TOTAL Biaya yang
sudah dan akan saya keluarkan = Rp.5.000.000,-
2. Hasil Penjualan Jahe Merah
Berdasarkan pengalaman di tempat lain dan
informasi dari petani jahe merah yang sudah
berjalan. Rata-rata hasil panen jahe merah per
karung dengan cara di atas rata-rata dapat
mencapai 7-10 kg/karung.
Jadi asumsi perkiraan total hasil panen 500
karung x 10 kg = 5.000 kg
Harga per kg Jahe Merah memang fluktuatif
dikisaran Rp.10.000 – Rp.15.000,- tergantung
pembeli dan kualitas tentunya. harga jual yang
akan saya peroleh anggap saja rendah yaitu Rp.
8.000,-/kg (berdasar informasi pengepul minimal
Rp.8.000,-/kg).
Hasil penjualan : 5.000 kg x Rp. 8.000 = Rp.
40.000.000,-
Keuntungan atau laba : Rp. 40.000.000,- – Rp.
5.000.000,- = Rp. 35.000.000,-
GAJIAN TIAP BULAN
Banyak orang beranggapan “bertani itu tidak bisa
memberi penghasilan tiap bulannya”, Bertani
hanya memberi penghasilan pas pada waktu
panen saja. Menurut saya anggapan ini 100%
salah, Ya salah satunya dengan cara menanam
jahe dengan media karung/polybag.
Caranya tiap bulannya kita musti tanam jahe ya
misal 20-50 polybag/karung. Jadi diawal tiap
bulannya kita tanam jahe. Contoh misal bulan
januari minggu awal kita tanam 50 polybag/
karung jahe, maka bulan februari di minggu awal
berikutnya kita tanam lagi 50 polybag/karung,
begitu juga bulan maret dan bulan-bulan
berikutnya.
Kalau tanam terus kapan panennya rekkk..?
Biasanya jahe sudah bisa dipanen di usia 8-10
bulan, lebih baik kwalitasnya jika panen di usia 10
bulan saja supaya jahe matang tua sempurna
Untuk skema tanam dan waktu panen bisa dilihat
dari tabel di bawah ini.
Waktu Tanam Jumlah Tanam Waktu
Panen
Januari 50 Karung
November
Februari 50 Karung
Desember
Maret 50 Karung
Januari
April 50 Karung
Februari
Mei 50
Karung Maret
Juni 50
Karung April
Juli 50
Karung Mei
agustus 50
Karung Juni
September 50 Karung
Juli
Oktober 50 Karung
Agustus
November 50 Karung
September
Desember 50 Karung
Oktober
Hitung-hitunganya gimana? berapa rupiah yang
kemungkinan bisa kita hasilkan tiap bulan.
Modal Tiap bulannya :
Bibit jahe 150 tunas x Rp.1.500,- = Rp.225.000
Polybag/karung 50 x Rp.2.000 = Rp.100.000
Media Tanam 50 x Rp.3.500 = Rp. 175.000
Perangsang Akar/umbi = Rp. 75.000
TOTAL Rp. 575.000,-
Hasil tiap bulannya :
Tanam jahe media karung bisa menghasilkan
rata-rata 10 kg tiap karungnya. Tapi disini kita
ambil contoh hasil kemungkinan terendah
misalkan saja 1 karung menghasilkan 5 kg jahe
dan harga jual per kilo jahe tingkat pengepul
Rp.8.000.
Maka : 50 karung x 5 kg = 250 kg
250kg x Rp.8.000 = Rp. 2.000.000 – Rp.
575.000 = Rp. 1.425.000
Jadi bisa kita ketahui nantinya mulai bulan
november sampai terus kedepan kita akan
mendapat penghasilan
Rp. 1.425.000. hasil ini bisa lebih jika hasil
panen kita bisa maksimal dan harga jual jahe naik

Minggu, 21 Februari 2016

swargamaniloka



Mun ngimeutan kana ajaran luluhur urang nu
disilokakeun dina wayang sawarga teh disebutna
swargamaniloka, nu asal tina kecap sa-waruga-
mani-loka, nu hartina sawaruga = sadiri sakujur,
mani (keur awewe manikem) bahan diri, loka =
tempat, jadi hartina "sadiri sakujur nu asal jeung
tempat mani", nu ngawasana disebut Sanghyang
Manikmaya (manik=mani, maya=cahaya) nu hartina
"gaib nu nempatan dina cahaya mani" ....cing
saha jalma nu lain asal tina cahaya mani??.
Eta Manikmaya disebut oge Batara Guru, nu hartina
saha bae jalma bakal guguru teh ka nu aya dina
diri, salah jeung bener kumaha ceuk dirina liwat
pangawasa Gusti nu aya dina diri, nyaeta nu
disebut guriang tujuh (guru hyang tujuh), nyaeta
pangawasa, pangersa/kadaek, hirup, uninga, rungu,
tingali, ngandika,
Nya ngolahna make alat anggauta badan nu sok
diistilahkeun "wali sasanga" salapan lahir jeung
sifat batinna, nyaeta 1. uteuk jeung elinganna, 2.
ceuli jeng dengena, 3. panon jenug tingalina, 4.
sungut jeung ucapna, 5.irung jeung ambeuna, 6.
hate jeung pikirna, 7. syaraf jeung rasana, 8.
leungeun jeung obahna, 9. suku jeung langkahna.
Tah eta wali sasanga nu 9 lahir jeung 9 batin nu
jumlahna jadi 18, ku luluhur ahli seni disimbulkeun
dina 18 senar kacapi, oge disimbulkeun dina
kendang indung ku 9 tali paragi ngantengkeun
kulit nu nyambung wengku (nu disebut rarawat)...
meureun
hartina diri urang kawengku ku salapan pangawasa
nu kudu dirarawat.
Eta Manikmaya oge sok disebut Hyang
Jagatnata...nu hartina ngatur jagat/dunya...dunya
gede (buana) nya dunya leutik (diri)....cing saha
nu ngatur jagat teh mun lain eta hyang/sukma nu
aya dina sadirina-sadirina da jalma paeh (nu geus
teu aya hyangna) mah tong boro bisa ngatur
dunya... ngatur dirina ge teu mampu alias kudu
diatur ku batur. Manikmaya oge disebut Hyang
Pramesti nu asal tina kecap prama-hesti (nu
ngutamakeun pikir).... jadi lain ngandelkeun otot.
Lian ti eta masih keneh aya ngaran-ngaran alias
lianna nu intina ngagambarkeun fungsina diri jeung
pangawasa gaib nu nyicingan swarga, matak sok
disebut oge Kahyangan (tempat hyang atawa
Kagustian/KaTuhanan).
Tah nu ngajaga swargamaniloka teh nyaeta dewa
Patuk (sungut) jeung Dewa Tumboro (beungeut),
matak sing saha bae nu rek asuk ka swarga kudu
taranjang (sagala kadaharan nu rek asup kana diri
kudu dibuka/leupaskeun cangkang/bungkusna), tah
dina gerbang swarga ku dewa Patuk dipariksa mun
aya nu aneh sok diusir/diutahkeun, nya atuh Dewa
Tumboro ge ngilu tugenah (roman beungeut jadi
robah).
Disebutkeun swargamaniloka teh tempat sagala
kanikmatan jeung kamewahan, loba widadari
(Widya-ndari), sok we pan ngeunah dahar, ngeunah
nginum, nikmat sare, nikmatna sapatemon laki-
bini, genahna tutupakan, genahna nganikmati imah,
pamandangan jsb.....make naon mun teu make
diri... mun teu make diri sarua jeung ngalamun
alias menghayal...... jadi dimana urang geus mulih
ka jati mulang ka asal, asal diri (nu disebut dulur
papat) geus baralik ka sa-asalna deui, asal seuneu
balik ka seuneu, asal angin/udara balik deui ka
angin/udara, asal cai balik ka cai, asal bumi balik
ka bumi. ......dina asup ka sawarga ngeunah-
genah-merenah-tumaninahna rek make naon????.
Tah di swargamaniloka disebutkeun aya kawah
"candradimuka" (candra =
gambaran, muka = beungeut) dimana mun aya nu
asup teu dipiharep boh nu
teu katingali atawa nu wujudna katingali eta kawah
sok ngagolak, matak
mun meunang kaaambek/kakeuheul/kasedih pon
kitu deui panyakit, eta
beungeut sok robah jadi beureum atawa pias,
sungut/kawah nyorocos
ngaluarkeun lahar ku nyarekan laklak dasar, mun
panyakit sok rumahuh
atawa sasar, teu ngeunah barangdahar jeung teu
genah cicing. Tah kaayaan dina kitu diri teh jadi
tepat sagala katugenahan alias jadi naraka.
Jadi ceuk ajaran luluhur Sunda mah sawarga jeung
naraka teh nya aya dina diri, jeung dina kaayaan
keur hirup, mun hayang manggih sawarga nya
kudu ku cara ngajaga diri sangkan cageur,
kalakuan sing bageur, kanyaho sing bener, pamilih
sing pinter (ulah nu enya dilain-lain nu lain di
enya-enya) dijiwaan ku sikep jujur, tangtu salamet,
mun teu kitu tangtu pinanggih jeung naraka.
Kumaha mun urang geus paeh?..... ceuk kolot
urang teh ngan ukur ngubara di dunya, mun urang
geus beak lalakon, nya balik deui ka asalna nu
disebut "alam padang pwe panjang nagara tunjung
sampurna"... nu asal ti alam balik deui ka alam
(seuneu jeung haneutna, angin jeung hiliwirna, cai
jeung tiisna, bumi jeung tetepna). Tah nu asal ti
Gusti nya baik deui ka Gusti (manunggaling
kawula-gusti), sabab ingsun/kuringna mah lain
urang dunya tapi nu asal ti Gusti manunggul deui
jeung Gusti nu teu nitis deui ka dunya
Matak dina kapapatenan ceuk sunda mah
disebutna teh "Mulih ka Jati Mulang ka Asal"
Haar....atuh urang teu bisa ngarasakeun nikmatna
sawarga mun urang geus paeh......... pan tadi
disebutkeun hayang ngarasakeun nikmatna
sawarga mah nya di dunya keur hirup keur make
keneh diri..... mun urang boga cita-cita geus paeh
hayang ka sawarga nu digambarkeun alamna
endah, loba widadari, cai cur-cor dimana-mana,
kadaharan sagala aya, papakean sagala alus......
apan eta mah gambaran sifat jeung nafsu
duniawi,atuh eta mah sarua jeung beurat keneh
ka dunya...rek kumaha bisa mulih ka Jati mun
kitu???.... matak mungkin ku hal eta loba jalma nu
geus paeh tapi masih sumpang-simpang teu
bablas ngarah ka jalan paasalan, da mungkin
neangan sawarga.
Ceuk ajaran luluhur nu bener mulihna mah mun
"geus teu naon-naon ku naon-naon" lir ibarat bayi
(sing saha nu teu ngabenerkeun yen bayi mah
masih suci???? ngacung).... tah kabeh urang
ngalaman jadi bayi heula....cing aya nu inget
kumaha urang keur bayi?...apan eta sarua jeung
teu naon-naon ku naon-naon.... jadi ajaran luluhur
mah dina urang geus beak lalakon teh kudu balik
deui suci jiga bayi dan urang teh digumelarkeun ka
dunya dina kaayaan suci. Mun jalma dina beak
lalakon bisa model kitu, tinangtu bakal bisa
"ngahyang"....... ceuk kolot urang gubrag gumelar
ka dunya babarengan antara lahir-batin jeung
kuringna......, naha dina mulang bet teu
babarengan? kuringna jeung batina balik tiheula,
ari lahirna bet pandeuri...... mangtaun-taun karek
bisa balik deui ka asalna... atuh teu adil teu
kompak.
Tah matak ceuk kuring mah soal ngahyangna
sababaraha luluhur urang, ceuk pangarti kuring
lain hayalan, sabab ceuk ajaran datang ka dunya
jeung balik ti dunya teh sabenerna kudu
babarengan ulah silih tinggalkeun antara lahir
(waruga) - batin (uga) jeung kuingNa (isun).
Cag ah.... guaran simkuring panjang nya??......
tapi sugan we bisa nambahan kanyaho kana ajaran
luluhur Sunda.

Sabtu, 20 Februari 2016

cara membuat kacang telur

Resep :
1 kg kacang tanah masih ada kulitnya
1 kg terigu
2 btr kuning telur
1 ons margarin
3 ons gula pasir
1 gelas air
2 bks vanili
Cara :
1. Rebus : gula, margarin, vanili dan air sampai
mendidih, lalu dinginkan
2. masukkan kuning telur ke larutan gula tadi,
aduk sampai rata.
3. taruh kacang dalam mangkok, siram dengan
larutan air gula 2 sdm, aduk rata
4. Lalu taruh di tampah yang sudah ditaburi terigu
kira2 segenggam tangan, aduk rata sampai terigu
menempel pada kacang.
5. lalu kacang ditaruh lagi di mangkok, siram lagi
dengan larutan air gula,
6. taruh lagi di tampah yang sudah ditaburi terigu,
7. ulangi sampai lalutan gula habis dan terigu juga
habis.
8. lalu digoreng sampai agak kecoklatan, dengan
api kecil.

membuat manisan agar agar

Manisan Agar-agar kering"
Bahan :
Agar-agar bubuk (warna putih) 3 bks
Pewarna sesuai selera
Gula pasir 1/2 kg
Air bersih 0,8 ltr
Cara membuat:
Masukkan semua bahan dan rebus hingga
mendidih aduk-aduk sampai gulanya hancur dan
adonan mengental
Kemudian angkat dan tuang kedalam cetakan yang
telah disediakan sebelumnya setebal jari
Tunggu hingga agar-agar mengeras, kemudian
potong kecil-kecil berbentuk dadu atau sesuai
selera. (gunakan pisau gelombang supaya cantik)
Selanjutnya setelah siap dipotong masuk ke tahap
penjemuran.
Jemur agar-agar berkali kali hingga betul betul
mengering dan berkristal. jangan lupa dibolak-
balik agar cepat kering (bisa memakan waktu
seminggu lebih)
Setelah benar-benar mengering simpan manisan
agar-agar kedalam toples kedap udara.
Manisan siap untuk dιnιĸмaтι

Kamis, 15 Agustus 2013

CARA MEMBUAT BALSEM

Kita dapat membuat sendiri balsem gosok. Adapun baha-bahan yang diperlukan untuk pembuatannya adalah: vaslin kuning / putih 2 ons, lilin kuning ( malam lebah ) ½ ons, minyak permen ( peppermint ) 20 cc, minyak cengkih 20 cc, minyak gondopuro, 20 cc, menthol kristal 20 garam, kamper kristal 10 gram, bahan warna coklat secukupnya.
Cara pembuatannya: vaslin dan lilin kuning dipanaskan supaya mencair. Minyak permen, minyak cengkih, minyak gondopuro, dan bahan warna dimasukkan ke cairan yang tadi habis dipanaskan. Aduk sampai merata, lalu tambahkan menthol dan kamper kristal, lalu aduk-aduk lagi. Terakhir masukkan ke wadah balsem, sekitar serempat jam kemudian balsem mengental dan siap dipakai. Bahan-bahan untuk balsem ini dapat dibeli di apotek, sedangkan untuk lilin kuning dapat dibeli di toko batik / pum warung jamu jawa.