Rabu, 29 Agustus 2018

bio plok

Bagi Jojo di Indramayu, Jawa Barat, aplikasi
teknologi bioflok pada budidaya lele memberi
banyak keuntungan. Selain hemat air, pakan, dan
lahan, panen pun tinggi. Dari 4 kolam wire mash di
lahan 25 m2, Jojo memanen 4 kuintal dari
pembesaran 5.000 lele.
Sejatinya teknologi bioflok memanfaatkan populasi
mikrob dalam wujud gumpalan. Populasi itu
berguna dalam proses nitrifikasi yang mengubah
amonia dari sisa-sisa pakan dan kotoran menjadi
nitrat yang tidak berbahaya. Ujung-ujungnya lele
nyaman hidup. Harap mafhum pada budidaya
intensif, lele mendapat asupan pakan berprotein
tinggi agar tumbuh cepat. Padahal dari pakan itu
hanya 25% termakan dan sisanya menjadi limbah.
Aplikasi teknologi bioflok tersebut memungkinkan
pembesaran lele dengan padat tebar tinggi hingga
1.000 ekor/m3. Sortasi tetap diperlukan untuk
menjamin keseragaman ukuran panen. Meski padat
tebar tinggi, nilai konversi pakan (FCR) terbilang
rendah hanya 0,7-0,9. Artinya untuk memperoleh 1
kg lele diperlukan pakan 0,7-0,9 kg.
Rendahnya nilai FCR itu karena terjadi karena
peningkatan mikroflora di saluran pencernaan lele
sehingga memperbaiki metabolisme. Semakin
mudah nutrisi terserap, lele cepat tumbuh. Dengan
tumbuh lebih cepat itu, otomatis jumlah pakan
lebih sedikit. Untuk padat tebar 5.000 ekor lele
ukuran 5—7 cm per kolam, biaya pakan terpangkas
Rp700.000-Rp800.000 selama pembesaran.
Jojo menjelaskan dengan aplikasi teknologi bioflok,
lele yang dihasilkan lebih bersih. “Dagingnya lebih
bagus, cocok bila dijadikan fillet,” katanya. Selain
itu daging bebas residu, renyah, berkadar lemak
dan kadar air rendah, dan bertekstur kenyal.
Kehadiran mikrob membuat penanganan limbah
lebih mudah. Pembuangan limbah hanya dengan
membuka backwash sehingga limbah yang
mengendap di dasar terbuang. Maksimal air yang
dibuang air 10%. Bila konvensional, ketika kadar
amonia tinggi, penggantian air dapat mencapai 50%
.
Aplikasi Teknologi Bioflok dari Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
1. Kolam diberi air dan dilakukan aerasi air selama
2 hari.
2 Berikan kaporit 15-30 ppm selama 3 hari dan Na
tiosulfat 15-30 ppm 1 hari.
3. Tebar benih ukuran 7-8 cm
4. Berikan probiotik 100 ml/m3 dan kapur 30 ppm
5. Pakan 3-5% dan molases 25%